Islam Indonesia, Islam yang Mengayomi
Oleh : Redaksi
Kamis | 07-12-2017 | 17:14 WIB
ramadan-istiqlal.jpg
Umat Islam sedang menjalankan sholat di Masjid Istiqlal Jakarta. (Foto: Ist)

Oleh Sulistiyo Wardoyo

SUDAH merupakan hal yang wajar apabila menjelang Natal dan Tahun Baru pengamanan objek vital seperti gedung perkantoran dan tempat beribadah oleh aparat kepolisian akan semakin diperketat.

Pengamanan ini dilakukan untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan, seperti aksi terorisme dan sebagainya. Sebagai bagian dari mayoritas, saya sebenarnya sangat malu dan cukup ‘tidak nyaman’ dengan kondisi demikan, mengapa?

Sebab hal ini sedikit menandakan bahwa penduduk mayoritas di Indonesia, yakni pemeluk agama Islam, tidak bisa menyediakan keamanan dan kenyamanan bagi pemeluk agama lain yang merupakan minoritas untuk beribadah. Hal yang dapat diperdebatkan memang, namun begitulah kenyataannya, sebab apabila mayoritas dapat melindungi minoritas, maka pengamanan tidak perlu dilakukan superketat hingga menyisir bagian-bagian pojok gereja atau mensiagakan aparat keamanan di sekitarnya.

Pada dasarnya setiap akhir tahun keadaan relatif kondusif. Kondisi tersebut menciptakan dua argumen, pertama keamanan yang disediakan mungkin terlalu berlebihan atau kedua, malah hal itulah yang menciutkan niat pelaku kejahatan sehingga mereka melakukan aksinya pada lain hari. Argumen kedua terdengar lebih rasional karena fakta-fakta yang terjadi menunjukan demikian.

Menengok kembali tahun 2000 silam, banyak sekali terjadi kasus hingga aksi Bom yang dideteksi terjadi di beberapa gereja di tanah air, seperti pelemparan bom Molotov ke gereja di Samarinda walaupun tidak dilakukan persis saat natal yang terakhir kali hingga aksi terorisme yang dianggap paling sadis yakni di Thamrin beberapa tahun lalu.

Dapat diyakini bahwa mayoritas umat Islam di Indonesia bersifat toleran dan tidak akan sampai hati membunuh atau meledakan bom di tempat ibadah agama lain atau tempat umum. Namun sayangnya, masih ada sebagian kecil masyarakat yang menganggap aksi keji pemboman tersebut sebagai jihad yang mulia.

Ironisnya lagi, banyak pula yang diam dan tidak bersuara menentang hal tersebut, bahkan menuduh tanpa bukti yang jelas kalau aksi itu adalah konspirasi untuk menyudutkan umat Islam.

Jangan menutup mata jika lebih banyak umat Islam yang terbunuh oleh sesama umat Islam ketimbang umat agama lain yang terbunuh akibat ulah orang yang mengaku Islam. Pemboman di masjid di Sinai, Mesir beberapa waktu lalu cukuplah menjadi salah satu contoh.

Aksi terorisme tersebut diduga kuat dilakukan oleh ISIS, korban yang tewas tidak main-main jumlahnya, lebih dari 200 orang. Namun bagaimana respon umat Islam di Indonesia? umat seperti diam, tidak bersuara untuk mengutuk aksi tersebut. Bahkan dalam salah satu acara pada 2 Desember 2017, umat lebih tertarik untuk membahas masalah Viktor Laiskodat yang diduga menghina beberapa Parpol karena mengatakan Parpol tersebut mendukung kegiatan terorisme.

Itulah cerminan umat sebagian umat Islam yang berfaham konservatif dan rentan ditunggangi oleh kepentingan politik maupun pendeknya pemahaman terkait ideologi dan agama Islam, sangat fokus pada pihak luar, dibandingkan pihak internal yang mencoreng dan menghancurkan Islam dari dalam. Karena perlu diingat bahwa Islam tidak akan hancur oleh pihak eksternal, namun oleh pihak internal.

Sudah saatnya umat Islam seluruh Indonesia menyatukan suara dalam mencegah radikalisme dan terorisme. Caranya cukup mudah dengan bersikap awas dan bertindak tegas terhadap oknum-oknum yang ingin menganggu saudara dalam kemanusiaan kita untuk beribadah menyembah Tuhan yang dipercayainya. Selain itu, aktivitas lainnya adalah dengan tidak menggangu peribadatan umat agama lain.*

Mahasiswa Pasca Sarjana Jurusan Ilmu Sosial dan Politik Universitas Brawijaya


BNN-KEPRI