Pemerintah Indonesia Diminta Tegas soal Dukungan Pemindahan Ibukota Israel ke Yerusalem oleh Trump
Oleh : Irawan
Kamis | 07-12-2017 | 15:26 WIB
fh_filantropi.gif
Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah saat membuka Seminar dan Expo Filantropi 2017 dengan tema Peluang dan Tantangan Filantropi di Indonesia dalam Implementasi Agenda Pembangunan Berkelanjutan

BATAMTODAY.COM, Jakarta - Wakil Ketua DPR RI, Fahri Hamzah meminta Pemerintah Indonesia harus tegas dan keras menyikapi pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump yang mengakui Yerusalem sebagai Ibukota Israel. Sebab, menurut Fahri apa yang dilakukan orang nomor satu di negeri Paman Sam itu sangat ngawur sekali.

"Indonesia harus lebih keras bersikap, bukan hanya menyesalkan. Kita mesti kembali pada esensi pendiri bangsa kita dan posisi Palestina didalamnya," kata Fahri Hamzah kepada awak media usai menjadi keynote speaker di acara 'Seminar dan Ekspo Filantropi 2017' di Gedung DPR RI, Kamis (7/12/2017).

Wakil Ketua DPR RI Koordinato bidang Kesejahteraan Rakyat (Koorkesra) itu malah curiga apa yang dilakukan Presiden AS Donald Trump itu, bagian dari pengalihan isu yang tengah terjadi di dalam negerinya. Karena, dia (Trump) akan dijatuhkan oleh Senat dan Kongres-nya, setelah penyelidikan tentang keterlibatan Rusia dalam memenangkan dia di Pipres AS itu, makin lama semakin kelihatan.

"Jadi mungkin dia mau mengalihkan isu dalam negerinya itu, tapi akibatnya dia mengorbankan apa yang sudah menjadi percakapan dunia tentang perdamaian dunia, dimana Yerusalem adalah bagian dari negara Palestina, yang sampai sekarang merdeka pun ditahan-tahan sehingga menimbulkan ketidakpastian," ungkap politisi dari PKS itu.

Kata Fahi, pencaplokan hak-hak orang Palestina oleh Israel lewat Donald Trump saat ini adalah kejahatan yang mengabaikan semua resolusi yang pernah ada, termasuk di PBB. Apalagi, sudah setiap hari Israel mencaplok tanah-tanah disekitar orang Palestina, sekarang malah ‘jantung’-nya dicaplok.

"Jadi saya kira, Indonesia harus lebih keras berdirinya, jangan membiarkan pencaplokan ini. Yerusalem itu adalah bagian dari sejarah orang Palestina yang sekitar-sekitarnya sudah dirampas. Dalam semua perjanjian yang pernah ada, dalam 70 tahun ini, posisi Yerusalem tidak pernah bisa menjadi bagian dari Israel, tetapi lebih dekat menjadi bagian dari Palestina. Dan sejarahnya memang begitu, karena mereka mengelola kota suci, kota agama dimana di situ ada rumah ibadah agama-agama," jelas Fahri.

Tapi sekarang ini, Presiden AS Donald Trump berkongsi dengan Netanyahu untuk mengacaukan perdamaian yang sedang kita rancang lama. Kongsi dia (Trump) dengan Netanyahu ini yang sama-sama punya motif yang jahat kepada keadilan dan kepada perdamaian dunia.

"Maka kita jangan mau bergeming, jangan mau terprofokasi. Amerika itu sibuk dengan diri dan kepentingannya sendiri. Apalagi Presiden Donald Trump sendiri tidak pernah baca sejarah, tidak baca konteks dunia. Dia sibuk untuk mengurai bagaimana keluar dari masalahnya sendiri," tutup Fahri Hamzah.

Seminar Filantropi
Sebelumnya, Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah membuka dan mengapresiasi Seminar dan Expo Filantropi 2017 dengan tema 'Peluang dan Tantangan Filantropi di Indonesia dalam Implementasi Agenda Pembangunan Berkelanjutan' di Ruang Abdul Muis DPR RI, Senayan, Jakarta, Kamis (7/12/2017).

Fahri mengatakan, hal ini merupakan bagian dari diskusi yang lebih mendalam tentang bagaimana menggalang kesukarelaan (filantropisme) dimana masyarakat yang sebenarnya punya etos menyumbang dan berpartisipasi dalam kehidupan sosial yang lebih baik ke depan.

"Ini merupakan ikhtiar permulaan yang baik, dan DPR sebagai tempat perumusan kebijakan pembuatan undang-undang tentu harus banyak mendengar dan memperkaya regulasi yang ada serta sebagai bahan untuk mengatur alokasi anggaran dan pengawasan terhadap pemerintah," ungkap Fahri.

Fahri tegaskan bahwa potensi Filantropi di Indonesia sangat besar dan pasti akan tumbuh dengan pesat.

"Masyarakat Indonesia tumbuh dengan etos yang baik sebagai dermawan, dermawan memiliki nama yang baik di Indonesia, maka ini potensi yang sangat besar ke depan," ungkapnya.

Lebih lanjut, Fahri sampaikan bahwa masyarakat Indonesia memiliki semangat dan minat yang tinggi untuk menjadi bagian dari gerakan Filantropi yang bisa menghimpun dana mencapai seribu triliun hanya dari zakat dan wakaf saja, belum dari dana korporasi dan yang lainnya.

Editor: Surya


BNN-KEPRI