Berpotensi Dijadikan Sumber Benih Lokal

Tim Balittro Evaluasi Kelayakan Pohon Pala Desa Tiangau Anambas
Oleh : Alfreddy Silalahi
Rabu | 15-11-2017 | 15:14 WIB
Penelitian-pala-anambas1.gif
Foto bersama Tim Penelitian Tanaman bersam Wakil Bupati, Camat dan Danramil. (Foto: Freddy)

BATAMTODAY.COM, Anambas - Tim Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (Balittro) mengevaluasi kelayakan pohon pala di Desa Tiangau, Kecamatan Siantan Selatan, Kabupaten Kepulauan Anambas. Pasalnya, pohon pala di Tiangau diwacanakan menjadi sumber benih skala lokal (Provinsi Kepulauan Riau).

"Kami melihat performa pohon, kesehatan pohon, kondisi agro wilayah, produksi tinggi atau tidak. Kita melihat cocok dan layak dijadikan sebagai sumber benih lokal. Sesuai Peraturan Menteri Pertanian, kalau sudah ditetapkan sebagai sumber benih lokal maka dalam tiga tahun harus dilepas jadi kualitas unggul sehingga menjadi skala benih nasional," kata Peneliti Utama Nurliani Bermawie, Rabu (15/11/2017) usai melihat langsung pohon pala di Desa Tiangau.

?Didampingi Pengawas Benih dari Balai Besar Proteksi Perbenihan dan Perkebunan, Roni Ginting dan Darma Perwakilan Direktorat Jenderal Perkebunan serta Ade Staria, Kepala Bidang Pekebunan, Dinas Pertanian Provinsi Kepri, Nurliani mengakui potensi pala cukup tinggi. Bahkan Negara Indonesia Eksportir terbesar pala di dunia.

"Kita menguasai pangsa pasar 70 hingga 75 persen, hanya pala di Indonesia dari segi produktivitas cukup rendah dibandingkan pala negara lain. Mutu juga rendah karena macam-macam varitas pala. Saat ini ada 6 varitas pala di Indonesia, bahkan dalam satu kebun itu berbagai macam varitas. Jadi standar mutu pala ekspor lebih mengacu pada pala Grenada, karena hanya satu macam dan kadar minyak atsirinya tinggi," jelasnya.

"Kalau di Desa Tiangau ini hanya satu jenis pala yang kami temui?. Kemudian biji mirip pala banda Grenada dan sudah mendekati standar internasional. Tetapi kami akan menelusuri lagi," tambahnya lagi.

Dia juga kagum melihat potensi pala di Anambas, khususnya di Provinsi Kepri. Menurutnya pala ini akan meningkatkan ekonomi masyarakat. "Kalau pala ini produksi terus menerus, berbeda dengan tanaman lain yang hanya mengenal musim. Kami sebelumnya tidak tahu di Kepri ini ada pala, kami baru temui di Anambas ini," ungkapnya.

Sementara pemilik kebun pala di Desa Tiangau, Taspin mengakui, Negara Singapura telah melirik potensi pala di Anambas. Bahkan perwakilan pengusaha di Singapura meminta kuota ekspor 5 ton perbulan.

"Untuk saat ini kami belum bisa penuhi permintaan dari Singapura. Karena produksi pala disini baru merintis. Dari 4 hektar kebun pala yang saya kelola, baru 500 kilogram pala yang dihasilkan. Mungkin 3 atau 5 tahun lagi permintaan itu akan terpenuhi," ungkapnya.

"Bahkan untuk bibit pala dalam skala Anambas sudah kami sebarkan 10 ribu, baik itu Jemaja, Palmatak dan daerah lainnya," bebarnya.

Selain untuk obat-obatan, masyarakat Desa Tiangau sudah mulai membuat kreasi baru yakni pembuatan sirup pala dan selai pala. "Sirup dan selai pala ini kita manfaatkan dari kulitnya. Kalau fuli dan biji hitam kita jual ke Tanjungpinang dengan harga Rp 100 perkilogram," ujarnya.

Dia berharap, kedepan Anambas telah memiliki penyulingan minyak pala. Agar ekspor pala lebih tinggi. "Mudah-mudahan kedepan ada penyulingan di Anambas ini, agar ekonomi masyarakat semakin meningkat," harapnya.

Kehadiran Tim Peneliti Tanaman tersebut, turut didamping oleh Danramil Tarempa Kapten (Inf) Syamsuarno, Pemilik Kebun Pala Tiangau Taspin, Wakil Bupati Anambas, dan Camat Siantan Selatan Akhir Zaman.

Editor: Yudha


BNN-KEPRI