
JAKARTA, batamtoday - Keberhasilan Indonesia sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di
dunia dalam menerapkan nilai-nilai demokrasi saat ini mendapat
perhatian masyarakat internasional terutama negara-negara Islam.
“Banyak negara Islam, datang ke DPR ingin belajar tentang demokrasi dari indonesia. Mereka ingin mengetahui lebih jauh bagaimana praktek demokrasi yang sejalan dengan ajaran Islam. Afganistan yang baru saja menerapkan nilai-nilai demokrasi juga datang ingin belajar,” kata Ketua DPR Marzuki Alie di Jakarta, Senin (13/8/2012. Dalam ceramah yang berjudul ‘Ajaran Islam Menjunjung Kehidupan Demokrasi’, Ketua DPR juga menggarisbawahi dilihat dari basis empirik agama dan demokrasi memang berbeda. Agama Islam berasal dari wahyu sementara demokrasi adalah pemikiran manusia. Namun secara substantif prinsip demokrasi banyak yang bersesuaian dengan ajaran Islam. Ia memberi contoh beberapa dasar keilmuan dalam Islam yang bersesuaian dengan elemen demokrasi seperti musyawarah – As Syura, keadilan - Addala, kesejajaran – Al Musawwa, integritas - Amanah, akuntabilitas - Masghuliah, dan kebebasan - Kuriah. “Saya yakin pemikiran demokrasi-pun pasti mengambil dari kitab suci Alquran dan sunnah rasul, pada saatnya akan ada yang menyampaikannya,” katanya. Menurut Marzuki, demokrasi didasarkan pada penekanan bahwa rakyat seharusnya menjadi pemerintah bagi dirinya sendiri, dan wakil rakyat seharusnya menjadi pengendali yang bertanggung jawab atas tugasnya. Keberadaan wakil, lanjutnya, didasarkan atas pertimbangan bahwa tidak mungkin semua rakyat di Indonesia mengambil keputusan karena jumlahnya yang terlalu besar. Ketua DPR juga memaparkan tentang filosofi dewan perwakilan, dimana prinsip amanah dan tanggung jawab menjadi keharusan bagi setiap anggota dewan. Sehingga jika ada tindakan pemerintah yang cendrung mengabaikan hak-hak sipil dan hak politik rakyat maka harus segera ditegur."Itulah perwakilan rakyat," katanya. Karena prinsip demokrasi inilah, kata Marzuki, maka Alquran memberikan panduan dalam menuntukan siapa wakil-wakil yang layak dipilih, siapa calon-calon pemimpin yang harus dipilih. Semaksimal mungkin calon pemimpin harus mendekati karakter nabi Muhammad SAW, dalam kalimat umum bisa disebutkan orang yang mempunyai integritas, kompetensi, komitmen yang sering kita sebut sebagai siddik, amanah, fathonah dan thabligh. “Calon pemimpin yang kita pilih adalah seperti Rasulullah SAW yaitu fakir berilmu tinggi tapi rendah hati. Kaya tapi hidup sederhana, karena Al Fakir menyadari kekayaan yang kita bukan milik kita, kekayaan hanyalah titipan Allah SWT. Oleh karenanya seorang pemimpin adalah orang yang rendah hati, tidak menunjukkan kekayaannya dan merasakan kekayaannya adalah milik Allah semata,” kata Ketua DPR.
|
BERITA TERKINI
17:53 WIB | 25-05-2013
Peringatan Waisak di Tanjungpinang Berlangsung Khidmat 17:36 WIB | 25-05-2013 14 Anak Jalanan Terjaring Razia di Karimun 16:26 WIB | 25-05-2013 Ponsel Terbaru dan Bergaransi di Masterfone Lucky Plaza 16:13 WIB | 25-05-2013 Masyarakat Harus Kritis, Korektif dan Konstruktif 15:49 WIB | 25-05-2013 Pebalap Asing Dominasi Tour de Barelang 15:46 WIB | 25-05-2013 Raja Ahmad Tantang PT Bukit Prapatan Tunjukkan Bukti Kepemilikan 15:21 WIB | 25-05-2013 Kini Fasilitas Indoor dan Outdoor di Golden View Hotel Makin Menarik 14:27 WIB | 25-05-2013 Ibu 3 Anak Nyaris Tewas Usai Dianiaya dan Diperkosa 14:20 WIB | 25-05-2013 Ratusan Pebalap Sepeda Asing Ikut Tour De Barelang 14:14 WIB | 25-05-2013 Keamanan Jadi Modal Mutlak untuk Tarik Wisatawan |